MASJID JAMIK
Masjid
dibangun oleh masyarakat Kampung Dalam Pangkalpinang yang merupakan masyarakat
asli Kampung Tuatanu yang pindah karena perbedaan paham dan khilafiah.
Salah satu
keunikan masjid ini adalah antara tangga depan (berbentuk setengah lingkaran)
dengan atapnya dihiasi oleh tiang penyangga (ukuran kecil) berjumlah 5 tiang,
bisa diartikan sebagai Rukun Islam dan antara tembok depan dengan atapnya dihiasi
oleh tiang penyangga kecil sebanyak 6 buah (3 sebelah kanan dan 3 sebelah
kiri), dapat diartikan sebagai Rukun Iman. Memiliki empat tiang utama sesuai
jumlah Khalifaturrasyidin, lima
pintu masuk 3 di depan dan 1 di samping kiri dan 1 di kanan serta terdiri atas
3 undakan atau tingkatan dengan satu kubah dan empat menara. Masjid Jamik
adalah salah satu Benda cagar Budaya Kota Pangkalpinang.
MASJID AL MUKARROM

MASJID RAYA TUATUNU

Masjid Raya
Tuatunu merupakan masjid berarsitektur modern dan tradisional yang dilengkapi
dengan fasilitas canggih seperti beduk elektronik, fasilitas internet dan
lain-lain. Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini diharapkan menjadi pusat
studi Islam dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bernuansa islami.
KELENTENG KWAN TIE MIAW
Kawasan
Kelenteng Kwan Tie Miaw ini sekarang ditambah dengan lokasi Gang Singapur dan
Pasar Mambo sedang dikondisikan sebagai salah satu objek dan daya tarik wisata
Kota Pangkalpinang yaitu wisata budaya, wisata belanja dan wisata kuliner.
Lokasi ini diupayakan menjadi China Town (untuk mengingatkan kepada wajah kota
lama Pangkalpinang yang sangat dipengaruhi oleh rumah rumah dan kelenteng Cina)
dan dijadikan juga sebagai pusat upacara peringatan hari Raya Imlek, puncak
hari raya Cap Go Meh, kegiatan Sembahyang Rebut dan kegiatan Pot Ngin Bun.
Kegiatan Pot Ngin Bun merupakan satu satunya ritual yang ada di kelenteng Kwan
Tie Miaw. Kegiatan ini dilakukan untuk menolak bala dan segala wabah penyakit
yang mewabah di Masyarakat seperti wabah
Beriberi yang mewabah di Bangka sekitar tahun
1850-1860.
KATHEDRAL SANTO YOSEPH
Gereja Kathedral Santo Yoseph
yang sekarang ini awalnya dibangun pada tanggal 5 Agustus 1934 dengan nama Pelindung Santo Yoseph. Katedral Santo
Yosef terletak di jalan Gereja, terdapat Cathedra (Tahta) tempat Uskup memimpin
perayaan Ekaristi (Misa Kudus). Sejarah Katedral ini tidak terlepas dari
perkembangan dan penyebaran agama Katolik di Bangka dan Belitung, Kepualauan
Riau seta Kalimantan sejak tahun 1830 oleh Tsen On Ngie (Zeng Aner). Peristiwa
penting di gereja ini adalah pada 25 April 1935 ketika ditasbihkan sebagai imam
seorang Putra Bangka bernama Johannes Boen
Thiam Kiat sebagai Pastor Projo pertama di Indonesia.
Nama Pastor Boen
kemudian diabadikan menjadi Balai Pertemuan Paroki Pangkalpinang dengan nama
Balai Mario Jhon Boen.
Gereja
Kathedral Santo Yoseph saat ini merupakan salah satu Benda Cagar Budaya Kota
Pangkalpinang yang dilindungi negara.
GPIB MARANATHA

Gedung Gereja Maranatha
Pangkalpinang memiliki ciri khas yang unik dan menarik karena adanya menara jam
yang besar serta dibangun bersama Pastorinya (Rumah Pendeta). Bangunan terbuat dari beton dengan atap berbentuk limas,
dinding dari bata yang dilapisi batu granit. Dinding bagian depan berbentuk
segitiga diatasnya terdapat Salib. Bangunan terdiri dari satu bangunan inti dan
dua bangunan pendukung pada bagian kanan dan belakang. Pada bangunan tengah
(ruang utama/inti), atapnya terdapat menara yang di atasnya terdapat Salib.
GPIB Maranatha
merupakan salah satu dari sembilan Benda Cagar Budaya Kota Pangkalpinang yang
dilindungi negara.
MAKAM AKEK BANDENG
Akek dalam
sebutan orang Bangka berarti kakek dan Bandeng
dalam bahasa Daerah Tuatunu berarti orang yang selama hidupnya tidak menikah.
Nama sebenarnya dari Akek Bandeng adalah Akek Malik, beliau lahir sekitar tahun
1850 dan wafat tahun 1920. makam tersebut sering diziarahi masyarakat karena
Akek Bandeng adalah seorang ahli ibadah dan shaleh serta dikaruniai oleh Allah
SWT dengan bermacam karomah. Asal-usul Akek Badeng sendiri di masyarakat
Kampung Melayu Tuatunu tidak begitu jelas sehingga informasi hanya berkembang
dari mulut ke mulut.
KUBURAN CINA SENTOSA

Kompleks
pemakaman merupakan makam perkuburan cina terbesar se-Asia Tenggara dani sangat
unik dan menarik dengan arsitektur yang berbeda-beda pada tiap makam, bahkan
ada makam yang dibangun dengan batu granit seharga 500 juta rupiah. Selain itu
dari seluruh makam terdapat 2 (dua) makam yang beragama Islam.
Setiap tahun
diadakan tradisi Sembahyang Kubur (Ceng Beng atau Qing Ming), seluruh keluarga
yang ada di perantauan pulang dan
sembahyang dan memberikan penghormatan terhadap leluhur. Puncak pelaksanaan
Ceng Beng dilaksanakan pad tiap tanggal 5 April.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar